Monday, February 17, 2014

Inbox Peringatan



Tanggal, 10 Februari 2014, tepatnya pada pukul 4.00 dinihari. Saya buka FB dan membaca satu pesan inbox, pengirimnya adalah adik kandung saya yang tinggal di Batam.

Inbox tersebut mengabarkan tentang kematian Om saya. Saudara laki-laki Ibuku yang sulung. Membaca inbox itu saya hanya bisa menarik napas panjang sambil berucap, Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Dan, tanpa terasa butir-butir bening pun sudah membasahi pipi.

Saya tiba-tiba sedih. Dari tahun 2000 sampai sekarang, saya meninggalkan kampong halaman tercinta. Pergi mendampingi suami yang masih dalam proses menyelesaikan studynya di Cairo. Sejak itu pula sudah 5 keluarga dekat saya yang meninggal. Dan tidak satu pun yang bisa saya antarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Kelima orang itu adalah, pertama, ayah saya, yang meninggal tahun 2003. Tahun itu adalah tahun terakhir saya bertemu. Dan, waktu itu, meskipun ayahku baru mulai sembuh dari sakitnya, beliau tetap memaksakan diri untuk mengantar saya ke airport ketika saya akan kembali lagi ke Cairo. Tiga bulan saya di Cairo, ayah saya meninggal.

Sedang kedua, ketiga, keempat dan kelima adalah saudara kandung ibuku (2 laki-laki, 2 perempuan), kematian mereka hanya beda tahun saja. Yang keempat dan kelima ini (saudara laki-laki Ibuku), terakhir saya ketemu tahun 2009, ketika saya kembali ke Indonesia karena ada urusan.

Sejak saya menginjak masa remaja hingga selepas menikah. Seperti biasa, saya memang malas untuk bersilaturahim ke rumah keluarga. Apalagi kalau tidak ada perlu atau acara. Tapi waktu saya kembali tahun 2009, Kakak saya memaksa saya untuk bersilaturahim ke rumah keluarga(Om), karena keadaan Omku sudah sakit-sakitan.

Kata kakakku, "Sempatkanlah untuk bertemu, siapa tahu kamu tidak lagi punya kesempatan nanti. Kamu kan jauh, kita tidak pernah tahu kehendak Allah, karena Om sudah sakit-sakitan". Karena itu akhirnya saya menuruti ajakan kakak saya.

Sunday, February 9, 2014

Perjuangan Hati


Uang 100 usd sekitar 25 lembar dan beberapa lembar pecahan 50 RM dalam amplop serta selembar e-Ticket, kutemukan di pojok kursi ruang tunggu airport. Uang dan ticket itu segera kuambil, dan memasukkannya dalam tas.

Aku melangkah menjauh dari tempat dimana kutemukan uang dan e-ticket itu. Sambil berpikir, uang dan e-ticket ini aku laporkan atau tidak, ya?

Aku jadi bingung, ada inginnya melaporkan, tapi juga ketidak inginannya lebih kuat lagi. Angka nol, jumlah lembaran dollar dan RM dalam amplop itu, cukup menyilaukan mata dan hati. Benar-benar menggoda imanku.

Di tempatku berdiri, aku mulai mondar-mandir. Aku sedang berjuang untuk mengikuti satu kata hatiku.

Karena disatu sisi, hatiku berkata, "Uang ini tak usah kamu laporkan, Na. Lumayan uangnya untuk kamu gunakan beli ini dan itu. Pokoknya kamu ambil saja, ambil ambil ambil, rugi kamu kalau mengembalikannya".

Namun, di sisi lain, hatiku berkata, "Na, kembalikan uang itu kepada pemiliknya. Kasian yang punya, lagipula uang itu tidak seberapa, kok. Uang itu jika tetap kamu ambil, malah hanya akan menghalangi rezekimu yang lebih dari itu".