Tahun 2000
Setelah menikah, saya langsung diboyong ke Mesir oleh suami,
yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa di Al-Azhar University.
Saya ke Mesir dengan langkah "sedikit" terpaksa,. Karena saya berat
meninggalkan Indonesia
dengan segala yang ada di dalamnya.
Beberapa hari setibanya saya di Mesir. Saya jalan-jalan ke
pasar, dan langsung mencari salah satu jenis makanan kesukaan saya dan keluarga
waktu di kampung. Karena sukanya makanan itu hampir tiap minggu kami nikmati
dalam berbagai macam cara pengolahan, baik itu digoreng, bakar, rebus atau
diolah menjadi kue. Makanan itu adalah ketela pohon, yang di kampung lebih
dikenal dengan nama ubi kayu atau singkong.
Seperti yang kita tahu, singkong mengandung banyak nutrisi, tidak pada umbinya
saja, tapi daunnya pun memiliki banyak kandungan vitamin, mineral, asam amino
sessensial serta protein yang baik untuk tubuh kita. Sehingga tidak heran jika
daunnya pun bisa disulap menjadi sayuran yang sangat lesat.
Namun sayang, singkong ternyata tidak bisa dijumpai di Mesir.
Meskipun dalam bentuk barang impor, yang ada
hanyalah ketela rambat atau ubi jalar. Karena itu, akhirnya saya tidak
bisa lagi menikmati makanan kesukaan saya selama beberapa tahun.

