Sunday, January 12, 2014

Yang Teramat Saya Benci

Ikan LELE

Mengingat yang teramat saya benci. Dulu …
Waktu masih di Makassar, teman-teman saya sering mengajak saya makan di rumah makan yang ada menu LELEnya. Tapi, ajakan itu tak sekalipun saya terima, karena saya tidak suka ikan lele. Tidak sukanya pake banget lagi. :D

Waktu pertama sampai di Batam, teman-teman saya pun sering mengajak saya makan JENGKOL. Tapi, tak sekalipun saya mau. Karena saya tidak suka baunya. Dan, jangankan mau mencicipinya, melihatnya saja sudah buat saya mual(mabok karena baunya). Saya benar-benar tidak suka jengkol. Sehingga tak jarang, ketika saya diajak  makan jengkol, saya selalu bertanya, "Tidak ada apa makanan lain yang bisa dimakan selain jengkol?"  #BertanyaSinis. :D

Bagitupun, waktu awal-awal kedatangan saya di negeri Para Nabi ini. Seorang teman selalu mengajak saya untuk makan full madamis dkknya. Bahkan, teman saya kadang pagi-pagi datang ke rumah membawa full dan diolahnya kembali. Tapi saat itu, saya tidak pernah tergoda untuk menyentuhnya, meskipun dia sudah mempromsikan kalau makanan itu enak. Lebih enak lagi karena dia sudah mengolahnya kembali. Jujur, dulu kalau lihat full, saya jadi ingat muntah kucing. #SungguhTerlalu.

Friday, January 10, 2014

Asiyah, Ibu Angkat Nabi Musa


Asiyah binti Muzahim merupakan salah satu diantara wanita-wanita pilihan yang pernah terukir dalam bingkai sejarah. Dia istri Fir’aun, seorang raja Mesir di zaman Nabi Musa.

Saat bersama Fir’aun, Asiyah tidak dikaruniai seorang anak pun. Fir’aun sangat mencintainya karena kecantikan dan kematangan akhlaknya. Telah berapa banyak cobaan dan tantangan yang harus dihadapinya dengan penuh kesabaran.

Bahkan berbagai kesulitan mampu dirubah menjadi kemudahan, sehingga Asiyah dikenal sebagai rahmat, bagi masyarakat di zaman Fir’aun yang penuh dengan kelicikan dan kelaliman.

Pada masa yang seperti itulah muncul peristiwa yang akan menentukan sejarah hidup Nabi Musa selanjutnya. Disebutkan dalam sejarah kenabian, ketika Asiyah duduk-duduk di taman yang indah nan luas, dihiasi dengan aliran sungai mempesona. Dia melihat sebuah peti mengambang.

Perlahan-lahan peti itu semakin mendekat sehingga Asiyah menyuruh para pembantunya untuk mengambil dan mengeluarkan isi peti tersebut. Ketika dibuka, ternyata di dalamnya terdapat seorang bayi mungil, elok dan rupawan.