
Setelah beberapa hari merawat 1 orang pasien yang lumayan rewel.
Akhirnya pasien saya pun sembuh dari sakitnya. Alhamdulillah ... !!!
Namun, meskipun sudah sembuh pasienku tetap masih rewel. Hanya saja
rewelnya sudah bukan rewel yang mau membuat jantung saya copot.
Rewelnya itu hanya minta dibuatkan ini dan itu. Dan tadi siang minta dibuatkan "sup". Dengan senang hati saya pun memenuhi permintaannya. Tidak lama kemudian, dengan hitungan menit supnya sudah siap.
Seperti biasa, meskipun saya bukan koki handal tapi racikanku masih
selalu mendapat pujian dari 3A*Ammu, Adnan & Adam*. Walaupun pujian
itu sering kali saya sangsikan. Apakah itu benar atau hanya pemanis di
bibir saja .. :D
Dan saat sup hangat itu sedang kami nikmati, tiba-tiba pasien saya bilang,
Pasien :"Supnya enak sekali".
Saya : "Ya pasti donk, itu sudah masakan saya paling ikh...." :)
Belum selesai ucapanku. Adnan pun ikut berkomentar. "Mama masaknya dengan cinta"
Mendengar kata "cinta" Adnan, saya jadi kaget. Tapi kemudian Adnan kembali melanjutkan kalimatnya.
"Karena Mama selalu memasak untuk anak-anak sayangnya".
Saya pun tersenyum. Sembari berdoa dalam hati. Semoga Anak-anakku
semakin mengerti akan arti "cinta & kasih sayang seorang Ibu untuk
anak-anaknya". Meskipun mama'nya tidak pernah berucap CINTA. :)

Dulu, kalau saya mendengar seorang Ibu mengatakan, "Lebih baik saya
yang sakit daripada anakku". Dalam hati saya berkata, "Akhh ye ibu'E
talliwe-liwe mani sedding yangkalinga mantaji Ibu. Tongeng mua ga je".
Seakan kata-kata dari seorang yang bergelar Ibu saya sangsikan.
Mungkin, saya sangsikan karena saat itu perasaanku belum seperti perasaan seorang Ibu. Atau mungkin karena sifat keibuan
saya belum tumbuh dalam hati, walaupun saya juga seorang wanita.
Waktu terus berputar. Hingga akhirnya saya menyandang gelar Ibu
untuk anak-anak saya. Dengan gelar Ibu secara otomatis sifat keibuan pun
melekat dan tumbuh dalam hati. Kasih sayang, cinta, serta kerelaan
berkorban untuk sang buah hati menjadi sifat paling mendominasi hati
seorang Ibu.
Saya kembali mengingat akan kata-kata sang
Ibu. Dan kata-kata itu tak lagi saya sangsikan. Bahkan kata-kata itu
telah menyadarkan saya dari satu kekeliruan. Kini saya sangat yakin
bahwa seorang Ibu akan selalu rela berkorban untuk buah hatinya. Bahkan,
seorang Ibu akan sanggup mengorbankan nyawanya demi buah hatinya. Ibu Oh Ibu .. !!!
Dan .. Jika dulu saya hanya mendengarkan seorang Ibu mengatakan, "lebih
baik saya yang sakit daripada anakku". Saat ini pun saya yang
mengatakan, "Andai bisa, lebih baik saya yang disuntik berkali-kali
daripada anakku yang harus bersentuhan dengan jarum suntik".